Romansa Aktivis Dakwah
Mei 10, 2011 at 10:12 am irma Tinggalkan Komentar
Oleh: Izzatul Mujahidah
“Anakah yang ke-GR-an atau memang seperti itu sikapnya pada semua akhwat?” Tanya seorang saudara seperjuangan ketika bertutur tentang masalah yang tengah dihadapinya.
Semua bermula dari perhatian yang tak wajar, panggilan yang tak biasa, sikap yang berbeda dari seorang ikhwan. Setidaknya itulah yang dirasakannya. Kebersamaan yang terus-menerus, amanah yang hampir selalu sama membuat perjumpaan dan interaksi yang tak terelakkan. Tiga tahun adalah cukup bagi sang akhwat untuk memahami sang tambatan hati.
Interaksi yang cair antara keduanya membuat percik-percik rasa dalam diri sang akhwat semakin membuncah. “dia selalu mencari perhatian ana, hampir setiap acara dimana kami sama-sama menjadi panitia sikapnya selalu membuat ana merasa bahwa diapun memiliki rasa yang sama.” Lanjutnya.
Pada kesempatan lain dan orang yang berbeda, kembali ku terima sebuah kisah yang walau tak sama namun maknanya tak jauh berbeda. “dia selalu cepat tanggap, apapun pertolongan yang ku butuhkan selalu dipenuhinya. dia selalu ada setiap ku butuh bantuan.” Sampai akhirnya beliau yang berkisah merasa sangat sulit untuk lepas dari ketergantungan kepada sang “hero”, bahkan jalinan ukhuwah yang sudah terbina sempat retak beberapa jenak dengan saudara seperjuangan lainnya akibat kecemburuan karena kedekatan “hero” sang tambatan hati dengan saudara tersebut.
Perhatian yang berlebihan, tutur kata dan senda gurau yang tak biasa, panggilan yang istimewa serta interaksi yang cair antara ikhwan dan akhwat terkadang mencipta letupan-letupan rasa yang harusnya belum ada, dalam diri akhwat ataupun ikhwan, bahkan tak jarang keduanya merasakan hal yang serupa.
Terkenang akan nasehat yang pernah dipesankan seorang kakak bertahun yang lalu “semua tergantung akhwatnya, jika akhwatnya tegas maka ikhwan tidak akan mau ‘mengusik’.” Yup… terkadang ketika interaksi semakin mencair, sementara pihak ikhwan tak mau mengalah, maka ketegasan akhwat untuk mengakhiri bisa menjadi solusi. Namun, alangkah indah jika masing-masing diri sama-sama menjaga. Agar kasus seperti yang dikisahkan diatas dan berbagai kisah serupa yang dialami oleh “aktivis dakwah” lainnya dapat diminimalisir.
Senang memang bercanda dan saling ledek dengan lawan jenis, apalagi bagi “aktivis dakwah” yang memang sangat tabu akan hal itu. Bahagia rasanya bila dipanggil dengan nama yang istimewa oleh pujaan hati, apalagi bagi “aktivis dakwah” yang hampir tak pernah merasakannya. Bangga tentunya jika mengetahui banyak informasi ketika membahas lawan jenis sekaligus partner dakwah di “forum-forum” yang selalu tercipta disetiap kebersamaan dengan saudara seperjuangan lainnya. Namun, hal tersebut hanya akan memberi noda pada kesucian dakwah dan menambah duri dalam perjalanan panjang yang tengah ditempuh.
semoga tiap langkahku ya Allah
tidak sedang menyuruk ke sana
karena aku tahu
dalam tiap dosaku
tersimpan bahaya
saat aku memakluminya, menganggapnya biasa
********
hukuman terbesar atas ma’shiat adalah kebas hati
perasaan tanpa salah, yang membuat tenang
untuk terus berkubang dalam dosa
maka berbahagialah dia yang masih punya gelisah
atas dosanya
setidaknya masih ada iman di sana, yang sedang terluka
(Salim A. Fillah)
Wahai ikhwan, bersikaplah yang wajar, jagalah para akhwat yang berusaha keras menjaga ‘iffah dan izzahnya. Jangan lagi tambah beban mereka. Cukuplah qadhaya ummat yang mengusik pikiran dan hati mereka, jangan ditambah lagi kegelisahan mereka karena sikap, tuturkata dan perhatian antum yang belum seharusnya dipertunjukkan.
Wahai akhwat, jagalah izzah dan ‘iffahmu. Engkau adalah mutiara yang sangat berharga. Jangan berikan peluang lawan jenismu untuk mengusik hati dan pikiranmu. Janganlah kau undang mereka untuk bersikap dan bertutur yang tak wajar padamu, jangan hilangkan penghargaan mereka karena sikapmu. Karna pernah dipesankan bahwa “ketika ikhwan tak lagi segan bersenda gurau dan meledek akhwat pertanda mereka tak lagi menghargai akhwat tersebut, begitupun sebaliknya.”
Karena dakwah ini begitu suci, ia pun menuntut kesucian pada pengembannya
Karena dakwah ini begitu mulia, ia pun menutut kemuliaan dalam proses pencapaiannya
Jangan nodai ia dengan perbuatan dan tutur kata yang tak bermakna
Agar ia tak sekedar usaha yang sia belaka
karena yang sedang kita arungi adalah langkah abadi
karena kita tengah menapaki jalan para Nabi…
mei 2011,
bilik kecil nan damai.
Entry filed under: Inspiring. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed